Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

XIII. FACTS ABOUT THE SEAS AND OCEANS
Bab XIII.
Beberapa Fakta tentang Laut dan Lautan


Catatan penerjemah:
Dokumen asli [dalam Bahasa Inggris] dicetak dengan huruf biasa.

Dokumen terjemahan dicetak dengan huruf seperti ini.

We present to you Dr. William W. Hay, Professor of Geological Sciences at the University of Colorado, Boulder, Colorado, U.S.A. he was formerly dean of the Rosentiel School of Marine and Atmospheric Science at the University of Miami, Miami, Florida, U.S.A. We went with him on a marine expedition, to show us some of the phenomena connected to our study of the scientific miracles in the Qur’an and Sunnah. We asked him many questions about the marine surface, the divider between the upper and the lower sea, and about ocean floor and marine geology. We also asked Professor Hay about the mixed-water partitions between the different seas and fresh water rivers. He was kind enough to answer all of our questions in great detail.

Kami hadirkan kepada Anda Dr. William W. Hay, Profesor Ilmu Bumi di Universitas Colorado, Boulder, Colorado, U.S.A. dia dahulu adalah dekan Sekolah Kelautan Rosentiel dan Sains Atmosfer di Universitas Miami, Miami, Florida, U.S.A. Kami pergi bersama dia pada sebuah ekspedisi laut, untuk menunjukkan kepada kami beberapa fenomena yang berkaitan dengan studi kami tentang keajaiban sains yang ada di dalam Al-Quran dan Sunnah. Kami menanyakan kepadanya beberapa pertanyaan tentang permukaan laut, pembatas antara bagian atas dan bagian bawah laut, dan tentang dasar lautan dan geologi laut. Kami juga menanyakan Profesor Hay tentang pembatas (dinding) air-campuran antara lautan yang berbeda dan air sungai. Dia cukup baik dengan menjawab semua pertanyaan kami secara detail.

With regard to the partitions between the different seas, he explained that these bodies of water are not one homogeneous sea as it appears to us. Rather they are different seas, distinguished by varying degrees of salinity, temperature and density. In this slide, here the white lines represent partitions between two different seas (not shown - Ed.)

Berhubungan dengan pembatas antara laut yang berbeda, dia menjelaskan bahwa bagian laut ini tidak berada pada satu laut yang homogen (sama) sebagaimana kita lihat. Akan tetapi mereka adalah laut yang berbeda, yang dibedakan oleh berbagai perbadaan kadar garamnya, temperatur dan kepadatannya. Di slide ini, inilah garis putih yang mewakili pembatas antara dua laut yang berbeda (tidak diperlihatkan - pent.)

Each partition divides two seas that differ in temperature, salinity, density, marine biology and oxygen dissolubility. Scientists first had this picture, as you see it, in 1942 after hundreds of marine research stations were set up. Here we see the divider between the Mediterranean and the Atlantic Ocean.

Setiap bagian membagi dua laut yang berbeda temperaturnya, kadar garamnya, kepadatannya, biologi lautnya dan kelarutan oksigennya. Para ahli sains pertama kalinya mendapatkan gambaran ini, sebagaimana Anda lihat, pada tahun 1942 setelah beratus-ratus stasiun penelitian laut didirikan. Di sini kita melihat pembatas antara Lautan Mediteranian dan Lautan Atlantik.

In the middle of this photo (not shown - Ed.), we see a colored triangle. This is the base of the rock of Gibraltar. We can observe a colored partition between the two bodies of water, although the naked human eye cannot perceive it in nature. This has become possible by means of satellite photography and remote-sensing techniques. This photograph here was taken by a satellite utilizing the special thermal characteristics of the various water bodies, and it is for this reason that the seas show up with different colors (exact photos not shown - Ed. See Figure 13.1). For example, we here see light blue, dark blue and black. Other bodies of water show a greenish color. The different colors represent the difference in temperatures of the sea surface. However, as well all know, these oceans and seas will simply appear as blue in color to our eyes. These are partitions that can only be seen and perceived by scientific research and modern technology. Allah has informed us in the Qur’an that:

He has let free (maraja) the two seas meeting together: Between them is a barrier which they do not transgress. (Qur’an 55:19-20).

Di bagian tengah foto ini (tidak diperlihatkan - pent.), kita bisa melihat segitiga yang berwarna. Ini adalah dasar batuan Giraltar. Kita bisa meneliti sebuah bagian berwarna diantara dua bagian air, meskipun mata telanjang manusia secara alami tidak bisa melihatnya. Hal ini dimungkinkan dengan cara fotografi satelit dan teknik penginderaan jarak jauh. Fotografi ini diambil oleh sebuah satelit menggunakan karakteristik panas khusus dari berbagai macam bagian air, dan dengan cara inilah kita bisa melihat lautan dengan warna-warna yang berbeda (foto tidak disertakan - pent. Lihat gambar 13.1). Sebagai contoh, di sini kita melihat warna biru terang, biru tua dan hitam. Bagian lainnya berwarna kehijau-hijauan. Perbedaan warna-warna ini mewakili perbedaan temperatur dari permukaan laut. Bagaimanapun juga, sebagaimana kita ketahui, lautan-lautan dan laut ini akan tampak sebagai warna biru pada mata telanjang. Ini adalah bagian yang hanya bisa dilihat dan diperoleh dengan cara penelitian sains dan teknologi modern. Allah telah menginformasikan kepada kita di dalam Al-Quran bahwa:

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.
(Quran 55:19-20)

Traditionally, there have been two major interpretations of this verse. One opinion states that according to the literal meaning of the term maraja seas do meet and mix with each other. But the fact the Qur’an goes on to state that there is barrier between them, means that this barrier will simply prevent the seas from encroaching upon each other or flooding over each other.

Secara tradisional, ada dua kelompok penafsiran pada ayat ini. Satu pendapat menyatakan bahwa menurut arti secara literal pada istilah maraja lautan bertemu dan bercampur satu sama lain. Akan tetapi fakta menunjukkan bahwa Qur'an menyatakan bahwa ada pembatas antara mereka, artinya bahwa pembatas ini akan mencegah dua lautan ini keluar dari batas atau membanjiri satu sama lain.

Proponents of the second opinion ask how can there be a barrier between the seas so that they do not encroach upon each other, while the verse indicates that the seas meet together? They concluded that the seas do not meet and sought another meaning for the term maraja, but now modern science provides us with enough information to settle this issue. The seas do meet together, as we have seen, for example, in the picture of the Mediterranean and Atlantic Ocean (not shown - Ed.). Even though there is a slanted water barrier between them, we now know that through this barrier the water from each sea passes to the other. But when we the water from one sea enters the other sea, it looses its distinctive characteristics and becomes homogenized with the other water. In a way, this barrier serves as a transitional homogenizing area for the two waters.

Pendukung pendapat kedua menanyakan bagaimana mungkin ada pembatas antara lautan sehingga mereka tidak saling mengganggu satu sama lain, ketika ayat ini mengindikasikan bahwa lautan bertemu bersama? Mereka berkesimpulan bahwa lautan tidak bertemu dan mencari arti lain untuk istilah maraja, akan tetapi saat ini sains modern menyediakan kita dengan informasi yang cukup untuk mendudukkan masalah ini. Lautan tidak bertemu bersama, sebagaimana kita lihat, sebagai contoh, di dalam gambar Samudera Mediteranian dan Samudera Atlantik (tidak diperlihatkan - pent.). Meskipun ada air yang bercampur antara keduanya, saat ini kita mengetahui bahwa melalui pembatas inilah air dari satu lautan lewat kepada lautan yang lain. Akan tetapi ketika air dari salah satu lautan masuk ke lautan yang lain, air tersebut kehilangan sifat-sifat pembedanya dan menjadi homogen dengan air yang lainnya. ... Pembatas ini berfungsi sebagai daerah pemberi sifat serbasama secara transisi terhadap kedua air.

This is an excellent example of Islamic modern scientific research. Modern techniques can thus be used to prove the inimitability of the Qur’an. We discussed this verse and several other verses at great length with Professor Hay, and then we asked him the following question: ‘What is your opinion of this phenomenon, namely, that you have in your possession now texts which have been revealed 1400 years ago, and which described in minute detail secrets of the universe which no man at that time could ever have known, simply because the techniques and the equipment were not available?’.

Ini adalah contoh yang baik sekali terhadap penelitian sains modern secara Islami. Teknik modern bisa digunakan untuk membuktikan kemustahilan untuk ditirunya Al-Quran. Kami mendiskusikan ayat ini dan beberapa ayat-ayat yang lain secara panjang lebar dengan Profesor Hay, dan kemudian kami menanyakan kepada dia pertanyaan berikut: 'Apa pendapat Anda tentang fenomena ini, sebut saja, bahwa Anda saat ini memiliki teks yang telah diwahyukan 1400 tahun yang lalu, dan yang menjelaskan secara detail rahasia-rahasia alam semesta yang tidak mungkin satu orang pun di masa itu bisa mengetahui, karena teknik dan peralatan yang belum memadai?'

Professor Hay replied: I find it very interesting that this sort of information is in the ancient scripture of the Holy Qur’an, and I have no way of knowing where they would come from, but I think it is extremely interesting that they are there and that this work is going on to discover it, the meaning of some of the passages.

Profesor Hay menjawab: Saya temukan hal yang sangat menarik bahwa informasi singkat ini adalah sebuah tulisan kuno dari Al-Quran yang Suci, dan saya tidak menemukan jalan dari mana pengetahuan ini bisa datang, akan tetapi saya berfikir bahwa hal ini sungguh sangat menarik bahwa pengetahuan ini ada di sana dan bahwa pekerjaan ini berjalan untuk menemukannya, arti dari beberapa bagian.

He was asked: 'Then you have flatly denied it to be just from a human source. Whom do you think is the original source of such information?'

Professor Hay: Well, I would think it must be the divine being!

Truly this is divine knowledge which Allah sent in order to support the Message of the Prophet Muhammad (sallallahu ‘alaihi wa sallam) who said:

Each Prophet has been given something to make his people believe in him. But I have been given a Revelation from Allah, and I hope that I will have the greatest number of followers on the Day of Judgement.

This Revelation contains its own miracle and stands as a proof for humanity until the Last Hour.

Dia kemudian ditanya: 'Kemudian Anda secara datar menyangkal bahwa hal ini berasal dari sumber manusia. Siapa lagi menurut Anda sumber asli dari informasi ini?'

Profesor Hay mengatakan: 'Well, Saya berfikir pasti hal ini datang dari Tuhan!'

Sungguh, ini adalah pengetahuan yang telah Allah kirimkan untuk mendukung pesan yang dibawa Nabi Muhammad saw yang mengatakan:

Setiap Nabi telah diberi sesuatu untuk membuat ummatnya mempercayainya. Akan tetapi saya diberi Wahyu dari Allah, dan saya harap saya akan memiliki pengikut yang paling banyak di Hari Pembalasan.

Wahyu ini berisi keajaibannya sendiri dan bertindak sebagai bukti untuk ummat manusia sampai Hari Akhir.


Artikel Sebelumnya Artikel Sebelumnya Prev Next Artikel Berikutnya Artikel Berikutnya